Skip to main content

Tarif Gunung Papandayan Naik, Benarkah Garut Menjadi Kota Termahal di Indonesia?

13698266_672609529560611_4881250761213706494_o

Menyikapi tentang banyaknya postingan di berbagai media sosial, Apakah benar postingan terkini bahwa Garut Kota Termahal di Indonesia???

Saya sebagai warga Garut merasa kecewa, kalau boleh dibilang sakit hati ketika mendengar pernyataan itu. Tapi saya tidak bisa menyalahkan mereka semua, mereka bilang begitu karena mereka benar-benar menjadi pelaku/pelancong ketika berwisata ke Garut, terutama setelah kenaikan tarif TWA Gunung Papandayan.

Tidak sedikit testimoni dari mereka setelah camping di Gunung Papandayan mengungkapkan kekecewaannya terhadap mahalnya tarif baru Gunung Papandayan.

Dari mulai ongkos yang terus naik tiap tahunnya, tiket yang sekarang jadi mahal, banyak warung di Pondok Saladah yang menggangu “keasrian” camping mereka, jalur pendakian yang sekarang jadi berubah, dsb, Tapi fasilitas yang mereka dapatkan tidak ada, atau belum kelihatan aja? Saya juga tidak tahu ?

Itu semua merupakan kekecewaan pengunjung setelah pulang dari Gunung Papandayan, bahkan sampai ada yang bilang bahwa mereka berencana mau memboikot papandayan.

Terkait kenaikan tarif Gunung Papandayan Rudi Gunawan selaku Bupati Garut menanggapi hal tersebut. “ Gunung Papandayan milik BKSDA Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Mereka membuat kerjasama dengan swasta, memungut dengan dasar PNBP masuk kementrian dan tidak masuk ke PAD (Pendapatan Asli Daerah). Memang kalau 30 ribu harus bayar kemahalan karena tanpa fasilitas yang memadai, mungkin hanya ada asuransi kecelakaan. Untuk itu kita akan minta peninjauan tarif dan memanggil mitra swastanya” demikian pernyataan.

Saya sendiri sebagai penyedia jasa wisata di Garut, merasa kewalahan atas kenaikan harga tersebut. Dengan konsekuensi harga yang saya jual menjadi lebih mahal dari sebelumnya, imbasnya minat wisatawan untuk mengunjungi ke Gunung Papandayan pasti menurun. Kecewa ? Iya, sangat kecewa.

Tapi apa daya, daa kita mah apa atuh…kelompok kecil yang nyari penghasilan dari jasa wisata, yang terbawa oleh sistem yang ada.  Mau tidak mau dengan sistem seperti itu otak kita dipaksa berfikir lebih keras lagi.

Toh di Garut bukan hanya Gunung Papandayan saja, ada Gunung Guntur dan Gunung Cikuray yang sudah biasa di daki dan terkenal di kalangan pendaki. Dan juga banyak wisata lain selain gunung yang tak semahal Papandayan sekarang.

Oke anggaplah kita tidak bisa berbuat apa-apa atas kenaikan tersebut, kita ambil hikmahnya aja. Ada beberapa point yang kita ambil dari kenaikan tersebut.

Salah satunya adalah pemulihan ekosistem, ekologi dan ‘kebersihan’ Gunung Papandayan itu sendiri. Karena dari data yang kami dapat, Gunung Papandayan merupakan Gunung favorit bagi kalangan pendaki apalagi buat para pendaki pemula, sehingga wajar di setiap weekend atau di hari-hari libur lainnya Gunung Papandayan mencatat kuota kunjungan paling banyak kalau dibandingkan dengan gunung-gunung lain yang ada di Garut.

Dan sudah sewajarnya gunung ini butuh ‘istirahat’ dari aktifitas pendakian, walaupun itu hanya sebatas menurunnya kuota kunjungan. Karena Gunung Papandayan tidak ada jadwal penutupan secara rutin (termasuk gunung-gunung Garut lainnya) beda dengan Kawasan Taman Nasional yang setiap tahunnya rutin melakukan penutupan untuk pemulihan alam, penutupan Gunung dilakukan ketika ada bencana seperti kebakaran hutan, erupsi dan bencana alam lainnya.

Kita sebagai traveller boleh saja kecewa tapi harus cerdas.

Tarif Gunung Papandayan memang mahal tapi bukan berarti Garut menjadi Kota Termahal di Indonesia.

“One’s destination is never place, but new ways of seing things” – Henry Miller

Sebagai penutup saya mengajak bersama-sama kepada warga Garut khususnya, untuk menghilangkan paradigma bahwa Garut kota termahal di Indonesia, memberikan penjelasan kepada wisatawan agar tidak takut untuk datang ke Garut, karena banyak sekali pilihan wisata yang ditawarkan disini dengan keanekaragaman dan keunikannya, dan terakhir kewajiban kita adalah menjaga dan memelihara untuk alam yang lebih baik.

 

Iku Irsan Riana

Asgar (Asli Garut)

Bila temen-temen ingin mengutarakan opininya silahkan berkomentar dibawah.

Share this on :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *